Ask me anything

in love with life, arts, fashion and foods. well who doesn't?
Love this💛

Love this💛

1 month ago
0 notes

a form of love.

Ken :sakura-san, what do you think of rintaro (tachibana rintaro)?
Sakura :tachibana.. Has always been there by my side. So it just feels natural that he be at my side. So when i heard about a transfer, i was seriously pissed off. But when it comes to love, you could say it's different from that somehow. We fight over anything.. So i have this sensation he's like a member of the family i just get along with.
Ken :i see. Well that's true, isnt it? For someone you've thought of as being just friend up until now, you can't suddenly think if him as a man, can you? It's tough, isnt it? Still.. The sort of relationship where thinking about being separated from him and not being able to see him makes your heart beat like crazy is fine, but.. There's also the kind where you can be relaxed around him and just be yourself. Dont you think that sort of relationship, is also form of love?
1 year ago
4 notes
CHECK THE NEW COLLECTIONS OF LOLA SHOES ♥♥
#heels #shoes #new #fashion #lola

CHECK THE NEW COLLECTIONS OF LOLA SHOES ♥♥

#heels #shoes #new #fashion #lola

1 year ago
0 notes

*CRIES*

rawrimdrea:

Last Cinderella you were so good! I didn’t want you to end

Tachibana-san I’ll go to NY with you!

I want them to do a special episode or something. I need more.

1 year ago
10 notes
469 plays

make-me-smile:

Can’t Go Back by Rosi Golan

(Source: leadingmehome-ships)

1 year ago
35 notes
-sur:

Bertransit
MRT Jakarta terancam batal. Sebabnya sedikit lucu; tarif. Menteri Keuangan enggan subsidi. Mungkin dampak lain dari otonomi. Yang lain bicara tentang aspek sosial. Keberadaannya seakan melegalilasi penggusuran yang mungkin telah ditunggu-tunggu. Entah oleh siapa.
Tapi saya kira ada hal-hal mendasar yang dilupakan. Gunting pita MRT bukan perkara tarif atau gusur-menggusur.
Lima tahun lebih sejak saya keluar pagar dan tinggal di luar Jakarta. Terhitung delapan belas tahun mengecap pahit-manis hidup Jakarta. Ketika Transjakarta berjalan, saya termasuk yang merasakannya sejak awal. Menjalani saja. Cuma berpikir; bis ini lebih besar, ber AC, dengan rute luas ke pelosok Jakarta. Belakangan, jalan tak kurang macet. Antrian panjang hampir satu jam juga terjadi. Semua orang mengeluh, tapi tak ada titik terang. Kesabaran antri berdiri tentu bukan solusi.
Kini, MRT mengemuka. Katanya Jakarta dengan jumlah penduduknya, mestinya malu tidak punya MRT. Saya kira keberadaan MRT bukan tentang gengsi suatu kawasan terkait dengan jumlah penduduk yang ditampungnya. MRT atau Mass Rapid Transit bukan sekedar pengganti ojek jarak jauh dengan harga tiket pas tanpa perlu tawar-menawar. MRT juga bukan tentang ada atau tidak ada. Jika menilik dari namanya sendiri, MRT  adalah satu cara bergerak skala besar dengan sistem transit. Sistem transit memiliki implikasi signifikan terhadap kondisi ruang dimana ia berdiri.
Kenapa bertransit?
Sistem ini dipercaya dapat mengontrol pertumbuhan kota. Arah perkembangan kota dipusatkan mengacu pada titik-titik transit. Titik tersebut memiliki radius yang memungkinkan akses nyaman bagi pejalan kaki (350 meter atau 1/4 mil). Kesempatan untuk membuat kawasan padat terpadu juga dimungkinkan oleh radius ini. Kawasan sekitar titik transit dapat dioptimalkan menjadi area serba ada dengan berbagai fungsi sehingga menciptakan kawasan yang efektif dan efisien. Compact development- bahasa susahnya.
Bagaimana bertransit?
Minggu pagi. Gubernur Jokowi ingin jalan-jalan bersama keluarga ke Plaza Indonesia. Rafi Ahmad janjian dengan Yuni Shara di Grand Indonesia. Asmiranda dan pacarnya mau kencan di Sarinah. Koboi junior ada latihan futsal di Taman Menteng. Mereka sama-sama tinggal dekat Monas. Tujuan mereka sama, ke daerah Hotel Indonesia. Masing-masing memiliki alat angkut sesuai kebutuhan. Pak Jokowi membawa mobil karena ia pergi bersama keluarga. Rafi Ahmad naik sepeda. Asmiranda dan pacarnya boncengan motor berdua. Koboi junior berjalan kaki sekalian pemanasan.
Karena tinggal di kawasan Monas, mereka naik MRT dai halte Monas ke halte Bundaran HI.
Apakah sesederhana itu?
MRT adalah tentang transit.
Pak Jokowi hanya menggunakan mobil sampai halte Monas. Ia parkirkan mobilnya dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Rafi menggenjot sepedanya. Ia butuh ruang yang nyaman untuk bersepeda di jalan raya. Ia ingin memarkirkan sepedanya dengan aman. Lalu ia melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Asmirandah dan pacarnya melaju di atas dua roda hingga halte Monas. Lalu dua sejoli ini parkir dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Koboi Junior melangkah beriringan. Bocah-bocah lucu ini butuh ruang pejalan kaki yang nyaman. Mereka juga memiliki pilihan untuk menaiki angkutan umum untuk sampai dengan selamat di depan halte Monas. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan MRT.
Siklus ini terjadi kembali ketika mereka tiba di Halte Bundaran HI menuju tujuan masing-masing. Kemudian mereka harus mengalami hal yang sama untuk bisa PULANG.
Saya kira, transit adalah tentang budaya. Apakah warga Jakarta siap untuk membuka pintu mobil bukan di depan pintu masuk mall? Apakah warga Jakarta siap bersepeda di jalan raya? Apakah trotoar untuk pejalan kaki bebas lubang dan kendaraan parkir? Apakah halte-halte bus sudah digunakan dengan optimal?
Untuk menjawab itu semua, pengetahuan tentang bertransit adalah penting. Keberadaan Transjakarta harusnya bisa menjadi BRT (Bus Rapit Transit) tapi kenyataannya tidak didukung oleh sistem transit itu sendiri. Dinas yang mengelola trotoar (Dinas Pertamanan) seperti lupa mengobrol dengan perencana Transjakarta hingga banyak ditemukan akses masuk Transjakarta menutupi jalur pejalan kaki (setidaknya Transjakarta memaksa kita bisa membaca ‘peta’). Keberadaan MRT diharapkan tidak mengulangi kesalahan serupa. MRT adalah tentang sistem dan budaya, bukan sekedar lubang menuju bawah tanah. Budaya itu dimulai dengan pengetahuan tentang bertransit. Jokowi bersedia naik MRT karena ada akses lift menuju MRT untuk baby strollernya. Rafi bersedia naik MRT karena ada jalur sepeda yang teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Asmirandah bersedia naik MRT karena ada parkiran aman di dekat halte. Koboi Junior bersedia naik MRT karena jalur pejalan kaki yang aman dan teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Ini belum bicara soal kelengkapan fasilitas sekitar halte seperti loker dan area tunggu atau meeting point untuk janjian dengan seseorang.
Secara tidak langsung MRT menuntut perbaikan ruang fisik. Di saat yang sama, ia juga membentuk kebiasaan bergerak yang lebih fleksibel. Semakin banyak pilihan bergerak, semakin tinggi daya dukung suatu kota. Maka, secara sederhana pembangunan MRT mesti dibarengi oleh pembangunan kualitas ruang kota yang lebih baik. Saya kira, kualitas ruang kota yang baik perlahan-lahan juga dapat membangun budaya berkota yang lebih baik. Semoga.
 
*sumber dari beberapa lembar awal Planning For Transit-friendly Land Use: a handbook for New Jersey Community. New Jersey: NJ Transit

-sur:

Bertransit

MRT Jakarta terancam batal. Sebabnya sedikit lucu; tarif. Menteri Keuangan enggan subsidi. Mungkin dampak lain dari otonomi. Yang lain bicara tentang aspek sosial. Keberadaannya seakan melegalilasi penggusuran yang mungkin telah ditunggu-tunggu. Entah oleh siapa.

Tapi saya kira ada hal-hal mendasar yang dilupakan. Gunting pita MRT bukan perkara tarif atau gusur-menggusur.

Lima tahun lebih sejak saya keluar pagar dan tinggal di luar Jakarta. Terhitung delapan belas tahun mengecap pahit-manis hidup Jakarta. Ketika Transjakarta berjalan, saya termasuk yang merasakannya sejak awal. Menjalani saja. Cuma berpikir; bis ini lebih besar, ber AC, dengan rute luas ke pelosok Jakarta. Belakangan, jalan tak kurang macet. Antrian panjang hampir satu jam juga terjadi. Semua orang mengeluh, tapi tak ada titik terang. Kesabaran antri berdiri tentu bukan solusi.

Kini, MRT mengemuka. Katanya Jakarta dengan jumlah penduduknya, mestinya malu tidak punya MRT. Saya kira keberadaan MRT bukan tentang gengsi suatu kawasan terkait dengan jumlah penduduk yang ditampungnya. MRT atau Mass Rapid Transit bukan sekedar pengganti ojek jarak jauh dengan harga tiket pas tanpa perlu tawar-menawar. MRT juga bukan tentang ada atau tidak ada. Jika menilik dari namanya sendiri, MRT  adalah satu cara bergerak skala besar dengan sistem transit. Sistem transit memiliki implikasi signifikan terhadap kondisi ruang dimana ia berdiri.

Kenapa bertransit?

Sistem ini dipercaya dapat mengontrol pertumbuhan kota. Arah perkembangan kota dipusatkan mengacu pada titik-titik transit. Titik tersebut memiliki radius yang memungkinkan akses nyaman bagi pejalan kaki (350 meter atau 1/4 mil). Kesempatan untuk membuat kawasan padat terpadu juga dimungkinkan oleh radius ini. Kawasan sekitar titik transit dapat dioptimalkan menjadi area serba ada dengan berbagai fungsi sehingga menciptakan kawasan yang efektif dan efisien. Compact development- bahasa susahnya.

Bagaimana bertransit?

Minggu pagi. Gubernur Jokowi ingin jalan-jalan bersama keluarga ke Plaza Indonesia. Rafi Ahmad janjian dengan Yuni Shara di Grand Indonesia. Asmiranda dan pacarnya mau kencan di Sarinah. Koboi junior ada latihan futsal di Taman Menteng. Mereka sama-sama tinggal dekat Monas. Tujuan mereka sama, ke daerah Hotel Indonesia. Masing-masing memiliki alat angkut sesuai kebutuhan. Pak Jokowi membawa mobil karena ia pergi bersama keluarga. Rafi Ahmad naik sepeda. Asmiranda dan pacarnya boncengan motor berdua. Koboi junior berjalan kaki sekalian pemanasan.

Karena tinggal di kawasan Monas, mereka naik MRT dai halte Monas ke halte Bundaran HI.

Apakah sesederhana itu?

MRT adalah tentang transit.

Pak Jokowi hanya menggunakan mobil sampai halte Monas. Ia parkirkan mobilnya dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Rafi menggenjot sepedanya. Ia butuh ruang yang nyaman untuk bersepeda di jalan raya. Ia ingin memarkirkan sepedanya dengan aman. Lalu ia melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Asmirandah dan pacarnya melaju di atas dua roda hingga halte Monas. Lalu dua sejoli ini parkir dan melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Koboi Junior melangkah beriringan. Bocah-bocah lucu ini butuh ruang pejalan kaki yang nyaman. Mereka juga memiliki pilihan untuk menaiki angkutan umum untuk sampai dengan selamat di depan halte Monas. Lalu mereka melanjutkan perjalanan dengan MRT.

Siklus ini terjadi kembali ketika mereka tiba di Halte Bundaran HI menuju tujuan masing-masing. Kemudian mereka harus mengalami hal yang sama untuk bisa PULANG.

Saya kira, transit adalah tentang budaya. Apakah warga Jakarta siap untuk membuka pintu mobil bukan di depan pintu masuk mall? Apakah warga Jakarta siap bersepeda di jalan raya? Apakah trotoar untuk pejalan kaki bebas lubang dan kendaraan parkir? Apakah halte-halte bus sudah digunakan dengan optimal?

Untuk menjawab itu semua, pengetahuan tentang bertransit adalah penting. Keberadaan Transjakarta harusnya bisa menjadi BRT (Bus Rapit Transit) tapi kenyataannya tidak didukung oleh sistem transit itu sendiri. Dinas yang mengelola trotoar (Dinas Pertamanan) seperti lupa mengobrol dengan perencana Transjakarta hingga banyak ditemukan akses masuk Transjakarta menutupi jalur pejalan kaki (setidaknya Transjakarta memaksa kita bisa membaca ‘peta’). Keberadaan MRT diharapkan tidak mengulangi kesalahan serupa. MRT adalah tentang sistem dan budaya, bukan sekedar lubang menuju bawah tanah. Budaya itu dimulai dengan pengetahuan tentang bertransit. Jokowi bersedia naik MRT karena ada akses lift menuju MRT untuk baby strollernya. Rafi bersedia naik MRT karena ada jalur sepeda yang teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Asmirandah bersedia naik MRT karena ada parkiran aman di dekat halte. Koboi Junior bersedia naik MRT karena jalur pejalan kaki yang aman dan teduh dari panas Jakarta di sepanjang jalan menuju halte. Ini belum bicara soal kelengkapan fasilitas sekitar halte seperti loker dan area tunggu atau meeting point untuk janjian dengan seseorang.

Secara tidak langsung MRT menuntut perbaikan ruang fisik. Di saat yang sama, ia juga membentuk kebiasaan bergerak yang lebih fleksibel. Semakin banyak pilihan bergerak, semakin tinggi daya dukung suatu kota. Maka, secara sederhana pembangunan MRT mesti dibarengi oleh pembangunan kualitas ruang kota yang lebih baik. Saya kira, kualitas ruang kota yang baik perlahan-lahan juga dapat membangun budaya berkota yang lebih baik. Semoga.

 

*sumber dari beberapa lembar awal Planning For Transit-friendly Land Use: a handbook for New Jersey Community. New Jersey: NJ Transit

(Source: srisur, via itsfelicity)

1 year ago
37 notes

it was not, it is not and it definitely won’t be easy.

it’s not a move on kind of thing. it’s not a forgive and forget kind of thing. it’s not loads of works, and final exams. it’s not an unfinished bussiness, or even bussiness deals. it’s not the akwardness between ex-es, not a weird questions among family. it’s not a step i can’t deal with but it may a step i will fall. it haven’t been easy, and it will never be. 

again, walk a mile in my shoes. 

2 years ago
0 notes